Sabtu, 19 Desember 2009

Sukaratu Ingin Masuk Pemkot Tasik

Menyusul upaya warga yang berada di wilayah Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya Utara yang ingin bergabung dengan wilayah Kota Tasikmalaya, kini warga Kecamatan Sukaratu menyatakan keinginan yang sama.

Kecamatan Sukaratu yang memiliki luas sekitar 33.611.04 hektar, terdiri dari 6 desa dan memiliki batas administrasi dengan Kota Tasikmalaya tersebut, menyatakan keinginannya untuk ikut bergabung seperti halnya yang disuarakan masyarakat Kec. Cisayong.

Bahkan, keinginannya tersebut bukan hanya seandainya Tasik Utara terbentuk saja, namun tidak terbentuk pun Tasik Utara, masyarakat Cisayong berharap bisa bergabung dengan kota. Padahal wilayah hukum Polresta Tasikmalaya selama ini sudah mencakup wilayah Kecamatan Cisayong, Rajapolah, Ciawi, bahkan Pagerageung.

Menurut beberapa tokoh di wilayah Sukaratu, Minggu (25/10), sebagian masyarakat yang pada umumnya bermata pencaharian petani, buruh, pedagang dan pengrajin tersebut mengakui, ingin bisa bergabung dengan Kota Tasikmalaya, yang diharapkan bisa memajukan daerahnya dalam mengembangkan potensi daerahnya.

Menurut masyarakat, wilayah Sukaratu yang memiliki potensi unggulan yakni obyek wisata Galunggung, pertanian, pertambangan pasir dan batu serta perikanan diakui akan lebih maju jika bergabung dengan Kota. Pasalnya, saat ini potensi yang ada di wilayahnya tidak bisa lebih maju karena infrastruktur penunjangnya masih minim seperti halnya jalan menuju ke obyek wisata Gunung Galunggung atau saluran irigasi untuk pertanian.

Beberapa warga Sukaratu, di antaranya Dedi, Jojo, Dadan, dan Ivan yang namanya ingin dirahasiakan mengatakan, Sukaratu yang wilayahnya subur dan strategis menjadikan wilayah yang potensial bagi pengembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut, dirasakannya setelah Gunung Galunggung meletus tahun 1982 dan memiliki banyak hikmah untuk bisa dimanfaatkan.

Menurut mereka, dengan pesawahan yang tidak pernah kekurangan air sekalipun di musim kemarau, serta tempat wisata yang diharapkan masyarakat akan memberikan peluang untuk lebih meningkatkan pembangunan dengan potensi yang dimilikinya baik dari segi pendidikan, perdagangan, pariwisata, dan pertambangan.

Namun sayang sekali, lanjut mereka, harapan tinggal harapan karena wilayah yang kaya akan potensi dan diharapkan bisa memajukan daerah tidak bisa dimaksimalkan. Dengan infrastuktur yang kurang maksimal membuat potensi daerah yang begitu banyak tidak bisa dikembangkan secara baik. Artinya, pemerintah sudah membiarkan daerah yang kaya potensi begitu saja.

"Dengan alasan tersebut, wajar jika saya memilih ikut bergabung dengan Pemkot, karena saya ingin lebih maju dengan memanfaatkan potensi daerah. Hal ini bukan berarti menyudutkan Pemkab karena tidak memperhatikan Sukaratu, atau Pemkab belum berhasil menjalankan roda pemerintahannya," ujar salah seorang di antara mereka.

Jika saja Pemkab Tasikmalaya bisa memperhatikan Sukaratu karena banyak potensi daerah yang dimilikinya, besar kemungkinan akan tercipta kemajuan daerah, khususnya Sukaratu dan umumnya Kab. Tasikmalaya.

Namun, karena sejauh ini perhatian Pemkab kurang, maka potensi yang dimiliki pun tidak bisa dimaksimalkan dan kemajuan tidak bisa dimaksimalkan. Hingga akhirnya, mereka menyatakan sikap untuk bergabung dengan Pemkot. (A-14/A-26).***

Sumber :

http://hotnews.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=106092

26 Oktober 2009

Potensi Objek Wisata Pantai Cipatujah Pasca Tsunami

Pasca bencana alam tsunami tahun 2006 lalu, objek wisata bahari Pantai Cipatujah di Kabupaten Tasikmalaya bagian selatan ini tetap berpotensi, karena memiliki daya tarik tersendiri. Setelah porak poranda, objek wisata alam itu, kini kembali bersolek.

Pengelolaan obyek wisata pantai Selatan ini dibawah kendali Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Tasikmalaya, yang kini tengah memoles kawasan wisata ini dengan membangun kios-kios wisata, gazebo, area bermain anak, menara pandang, mesjid, panggung terbuka, penginapan, area parkir yang cukup luas, dan sarana rekreasi lainnya.

Obyek wisata Pantai Cipatujah meliputi area kurang lebih 115 hektar, terletak kurang lebih 74 km dari pusat kota Tasikmalaya. Pantai selatan Tasikmalaya ini memiliki potensi wisata yang tersebar di sepanjang pantai Cipatujah sampai Cikalong. Disamping obyek-obyek wisata tersebut masih terdapat obyek dan daya tarik lain. Pada area pantai selatan Tasikmalaya bermuara sungai-sungai yang cukup besar membuat panorama alam disekitarnya indah dan sangat potensial untuk dikemas menjadi obyek wisata.

Letak yang cukup strategis sebagai salah satu obyek wisata yang dijumpai bila melewati jalur Tasik Selatan, selain Pantai Pamayangsari, Pantai Sindangkerta dan Karangtwulan yang tidak kalah eloknya. Pantai Cipatujah ini hanya berjarak sekitar 97 km dari objek wisata Pantai Pangandaran di Kabupaten Ciamis melewati jalan yang cukup mulus menyisir pantai selatan, dengan koordinat yang dapat di input pada GPS, yaitu S : 07˚ 34.778’ dan E 108˚ 06.430’


PROSPEK PASAR

SS.Mustofa seorang pemerhati pariwisata di Priangan Timur mengungkapkan, bahwa pembangunan ataupun pengembangan obyek wisata Pantai Cipatujah sampai sekarang belum dilaksanakan secara maksimal.

“Namun demikian, seiring dengan perkembangan ekonomi nasional, serta terbukanya jalur transportasi yang menghubungkan wilayah-wilayah Jawa Barat Selatan, perkembangan obyek wisata Tasikmalaya selatan diprediksikan akan dapat berkembang dengan pesat,” ujarnya.

Untuk kondisi saat ini, lanjut SS.Mustofa, jarak tempuh obyek wisata pantai Tasikmalaya Selatan terlalu jauh, sementara variasi daya tarik obyek wisata kurang. “Kondisi ini akan mengurangi keinginan wisatawan untuk datang berkunjung,” tuturnya.

Sebenarnya, obyek wisata pantai selatan di Kabupaten Tasikmalaya, secara geografis tidak terlalu jauh dengan obyek sejenis yang sudah lebih dahulu berkembang seperti objek wisata Pantai Pangandaran. Karena itu, seiring dengan perkembangan obyek wisata Pantai Pangandaran, dalam jangka panjang objek wisata pantai selatan di Kabupaten Tasikmalaya dapat menjadi pelengkap

“Jadi, keberadaan objek wisata pantai yang ada di Kabupaten Tasikmalaya seperti Pantai Cipatujah, Pantai Karang Trowulan, Pantai Sindangkerta dan lainnya, paling tidak menjadi jalur alternatif wisatawan untuk menuju atau jalan pulang setelah dari Pantai Pangandaran,” kata SS. Mustofa.


PELUANG INVESTASI

Lantas peluang investasi, terutama untuk pengembangan infrastruktur di area wisata pantai selatan Kabupaten Tasikmalaya, sebenarnya masih sangat terbuka luas. Problem utama yang menjadi kunci keberhasilan pengembangan adalah infrastruktur transportasi. Karena sampai saat ini jalan tembus Jawa Barat Selatan belum selesai, sehingga mobilitas faktor produksi dan jalur distribusi hasil produksi dari wilayah tersebut belum lancar sebagaimana yang diharapkan.

Karena itu, investasi yang mungkin harus didahulukan oleh pemerintah adalah pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang memudahkan mobilisasi orang atau barang di wilayah tersebut. Setelah prasarana transportasi dan komunikasi lancar, maka secara teoritis akan mendorong investasi swasta untuk menanam investasi sesuai dengan bidang keakhlian masing-masing, termasuk didalamnya bidang usaha yang bergerak di sektor pariwisata.

Namun demikian, agar tidak telanjur berkembang secara liar, maka perlu pemantapan dan penerapan hukum yang tegas dan lugas dalam aplikasi tata ruang yang telah lebih dibuat dahulu.

(*)

Sumber :

Redi Mulyadi

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=15&jd=Potensi+Objek+Wisata+Pantai+Cipatujah+Pasca+Tsunami&dn=20091003232213

14 Oktober 2009

Tasikmalaya Tidak Hanya Kampung Naga

Selama ini tujuan wisata di Tasikmalaya yang paling populer adalah Kampung Naga. Padahal, di Tasikmalaya ada 30 objek wisata. Potensi wisata lain itu belum digarap secara maksimal.

Untuk memperluas tujuan wisata di Tasikmalaya Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya mengembangkan empat potensi wisata, yakni wisata Cipanas Cipacing, Cipanas Cigunung, Imah Sunda (Rumah adat Sunda), dan Wisata jiarah Tubagus Anggariji.

"Empat potensi wisata itu sudah mulai dibangun dan ditargetkan selesai akhir tahun 2008," kata Kepala Seksi Pengembangan Produk Wisata, Edi Chrisyadi, awal pekan ini.

Edi mengatakan, jumlah potensi wisata di Tasikmalaya seluruhnya ada 30 objek wisata. Dari jumlah itu yang sudah dibangun dan dipromosikan ialah Gunung Galunggung, Wisata jiarah Pamijahan kemudian tiga pantai Cipatujah, Sindangkerta, Karang Taulan.

Sisa potensi wisata belum dikelola dan dikembangkan oleh pemerintah setempat karena terbentur masalah biaya.

Ia mengatakan, dana bantuan yang sudah diberikan pemerintah digunakan untuk membangun empat potensi wisata dan penataan enam fasilitas objek wisata yang sudah berjalan.

Sementara itu, pembangunan Imah Sunda di Kecamatan Bantar Kalong, menurut Edi, akan menjadi daya tarik baru bagi para wisatawan yang akan datang ke pantai Cipatujah, karena Imah Sunda itu dikhususkan sebagai setra Seni Budaya Sunda dan tempat istirahat bagi para pengunjung pantai Cipatujah.

MBK

Sumber : Antara dalam :

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/23/0704457/tasikmalaya.tidak.hanya.kampung.naga.

23 Oktober 2008

Tasikmalaya Kota Pengrajin

Tasikmalaya merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang lokasinya sekitar 120 KM dari Kota Bandung ibu kota Propensi Jawa Barat. Setiap kendaraan dari Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang akan menuju Bandung atau Jakarta dengan melintasi jalur selatan pasti akan melewati kota Tasikmalaya sehingga tasik malaya dikenal juga sebagai kota pariwisata. Setiap tahun diperkirakan jutaan wisatawan nusantara mengunjungi kota Tasikmalaya. Dua tahun belakangan wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia dan Singapore mulai marak mengunjungi Tasikmalaya sejak dibukanya penerbangan langsung dari Kuala Lumpur Malaysia ke Bandung oleh Silk Air Asia.

Sejak tahun 1980, Tasikmalaya telah menjadi salah satu pusat industri kerajinan di Indonesia. Dikota ini terdapat puluhan ribu usaha kecil kerajinan yang memproduksi berbagai jenis produk seperti bordir, sutera, batik, mebeler, alas kaki, aneka jenis produk kerajinan seperti anyaman bambu, pandan, mendong dan produk-produk kerajinan lainnya yang memiliki nilai seni untuk dekorasi rumah.

Produk kerajinan Tasikmalaya telah dipasarkan keberbagai wilayah di Indonesia bahkan telah dijual luas ke mananegara. Produk kerajinan yang anda beli atau lihat di tempat lain seperti Yogyakarta, Bali atau Jakarta mungkin saja dibuat dan berasal dari kota Tasikmalaya.

Jika suatu saat anda berkunjung ke Bandung, sempatkan diri anda untuk mengunjungi Tasikmalaya, karena disini anda akan kagum ketika melihat begitu banyak produk kerajinan berkualitas tinggi yang dipasarkan dengan harga sangat terjangkau. Tinggal pilih, cindera mata apa yang akan ada beli untuk di bawa pulang.


Sumber :

http://www.kampungtasik.com/tasikmalaya.html

Sejarah Kota Tasikmalaya

Sejarah berdirinya Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonomi tidak terlepas dari sejarah berdirinya kabupaten Tasikmalaya sebagai daerah kabupaten induknya. Maka rangkaian sejarah ini merupakan bagian dari rangakaian perjalanan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sampai terbentuknya Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya tahun 1976 sampai dengan 1981 tonggak sejarah lahirnya kota Tasikmalaya dimulai denngan diresmikannya Kota Administratif Tasikmalaya melalui peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976 oleh Menteri Dalam Negeri H. Amir Machmud. Periwtiwa ini di tandai dengan penandatangan Prasasti yang sekarang terletak di depan gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya. Pada waktu yang sama dilantik pula Walikota Administratif Pertama yaitu Drs. H. Oman Roosman oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat H. Aang Kunaefi.

Pada awal pembentukannya, wilayah kota Administratif Tasikmalaya meliputi 3 Kecamatan yaitu Cipedes, Cihideung dan Tawang dengan jumlah desa sebanyak 13 desa.

Berikut ini urtutan pemegang jabatan Walikotatif Tasikmalaya dari terbentuknya kota administratif sampai menjelang terbentuknya pemerintah Kota Tasikmalaya :

Berkat perjuangan unsur Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya yang dipimpin Bupati saat itu H. Suljana WH beserta tokoh masyarakat Kabupaten Tasikmalaya dirintislah pembentukan Kota Tasikmalaya dengan lahirnya tim sukses pembentukan Pemerintahan Kota Tasikmalaya yang diketuai oleh H. Yeng Ds. Partawinata SH. bersama tokoh - tokoh masyarakat lainnya. Melalui proses panjang akhirnya dibawah pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Kota Tasikmalaya diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden RI di Jakarta bersama-sama dengan kota Lhoksumawe, Langsa, Padangsidempuan, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pager Alam, Tanjung Pinang, Cimahi, Batu, Sikawang dan Bau-bau. 

Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Tasikmalaya, telah mengantarkan Pemerintah Kota Administratif Tasikmalaya melewati pintu gerbang Daerah Otonomi Kota Tasikmalaya untuk menjadi daerah yang mempunyai kewenangan untuk mengatur rumah tangga sendiri.

Pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya tak lepas dari peran serta semua pihak maupun berbagai steakholder di daerah Kota Tasikmalaya yang mendukung pembentukan tersebut. Tentunya dengan pembentukan Kota Tasikmalaya harus ditindak lanjuti dengan menyediakan berbagai prasarana maupun sarana guna menunjang penyelenggaraan Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Berbagai langkah untuk mempersiapkan prasarana, sarana maupun personil serta komponen-komponen lainnya guna menunjang penyelengaraan Pemerintahan Kota Tasikmalaya telah dilaksanakan sebagai tuntutan dari pembentukan daerah otonom itu sendiri.

Pada tanggal 18 Oktober 2001 pelantikan Drs. H. Wahyu Suradiharja sebagai PJ Walikota Tasikmalaya oleh Gubernur Jawa Barat dilaksanakan di Gedung Sate Bandung. Sesusuai Undang-Undang No. 10 Tahun 2001 bahwa wilayah Kota Tasikmalaya terdiri dari 8 Kecamatan dengan jumlah Kelurahan sebanyak 15 dan Desa sebanyak 54, tetapi dalam perjalanannya melalui Perda No. 30 Tahun 2003 tentang perubahan status Desan menjadi Kelurahan, desa-desa dilingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya berubah statusnya menjadi Kelurahan, oleh karena itu maka jumlah kelurahan menjadi sebanyak 69 kelurahan, sedangkan kedelapan kecamatan tersebut antara lain :

1. Kecamatan Tawang 

2. Kecamatan Cihideung 
3. Kecamatan Cipedes 
4. Kecamatan Indihiang 
5. Kecamatan Kawalu 
6. Kecamatan Cibeureum 
7. Kecamatan Mangkubumi 

8. Kecamatan Tamansari

Sebagai salah satu syarat Pemerintah Daerah Otonom diperlukan alat kelengkapan lainnya berupa Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Melalui surat keputusan No. 133 Tahun 2001 Tanggal 13 Desember 2001 Komisi Pemilihan Umum membentuk Panitia Pengisian Keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat KotaTasikmalaya (PPK-DPRD). Melalui proses dan tahapan-tahapan yang dilaksanakan PPK-DPRD Kota Tasikmalaya yang cukup panjang, maka pengangkatan anggota DPRD Kota Tasikmalaya disyahkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 171/Kep.380/Dekon/2002 Tanggal 26 April 2002, selanjutnya tanggal 30 April 2002 diresmikannya keanggotaan DPRD Kota Tasikmalaya yang tetama kali. 

Pada tanggal 14 November 2002 dilantiknya Bp. Drs. H. Bubun Bunyamin sebagai Walikota Tasikmalaya, pelantikan Walikota tersebut adalah segabai puncak momentum dari pemilihan Kepala Daerah pertama di Kota Tasikmalaya sebagai hasil dari Tahapan proses pemilihan yang dilaksanakan oleh Legislatif.

Sumber :

http://www.tasikmalayakota.go.id/home.php?show=sejarah

Sejarah Kabupaten Tasikmalaya

Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan Ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.

Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram, banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia. Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut “Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.

Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai Bupatinya.

Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung.


Sumber :

http://www.tasikmalayakab.go.id/content/view/50/42/

Kabupaten Tasikmalaya

Kabupaten Tasikmalaya, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Singaparna, sekitar 380 km sebelah tenggara Jakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Majalengka di utara, Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Garut di barat.


Pemerintahan

Kabupaten Tasikmalaya terdiri atas 39 kecamatan, yang dibagi lagi atas 348 desa dan kelurahan. Kota Tasikmalaya sempat menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya, tetapi kini menjadi kota otonom sejak 21 Juni 2001. Sejak itu, secara bertahap pusat pemerintahan kabupaten ini dipindahkan ke Kecamatan Singaparna.


Geografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Tasikmalaya merupakan daerah pegunungan, dengan puncaknya Gunung Galunggung dan Gunung Telagabodas. Tasikmalaya memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata di dataran rendah 20°-34° C dan di dataran tinggi 18°-22° C. Curah hujan rata-rata 2.072 mm/tahun.


Pendidikan

Kabupaten Tasikmalaya memiliki sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Siliwangi, Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) Singaparna dan Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Suryalaya. Selain itu, Tasikmalaya dikenal memiliki sejumlah pondok pesantren yang tersebar hampir di seluruh wilayah kabupaten.


Perekonomian

Perekonomian Tasikmalaya umumnya bertumpu pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, selain juga bertumpu pada sektor pertambangan seperti pasir Galunggung yang memiliki kualitas cukup baik bagi bahan bangunan, industri, dan perdagangan.

Tasikmalaya, terutama pada era sebelum 1980-an, dikenal sebagai basis perekonomian rakyat dan usaha kecil menengah seperti kerajinan dari bambu, batik, dan payung kertas. Selain itu, kota ini pun dikenal sebagai kota kredit akibat banyaknya pedagang dan perantau dari wilayah ini yang berprofesi sebagai pedagang yang menggunakan sistem kredit. Komoditas kreditan umumnya adalah barang-barang kelontong dan kebutuhan rumah tangga. Namun, sangat disayangkan, seiring dengan kebijakan investasi besar-besaran di era 1990-an, potensi ekonomi rakyat di daerah ini cenderung terpinggirkan, bahkan tidak diperhatikan.


Pariwisata

Kampung Naga

Kampung Naga terletak sekitar 90 km dari Bandung. Masyarakat yang tinggal di daerah ini mempunyai tradisi lama yang tetap dipertahankan. Keunikan kampung ini adalah bangunan-bangunan rumah yang dibuat seragam, mulai dari bahan bangunan sampai pada potongan bangunan dan arah menghadapnya. Selengkapnya mengenai Kampung Naga dapat dilihat di halaman Kampung Naga


Kerajinan

Daerah Rajapolah amat terkenal dengan kerajinan anyaman. Di sini banyak dihasilkan tikar, anyaman dari bambu, perabotan rumah tangga, dan sebagainya. Industri kecil lainnya yang amat menarik: Bordir di Kawalu, Payung Tasik, Kelom Geulis dan Batik Tulis. Lingkungan industri kecil yang sedang pesat berkembang ialah Desa Setiamulya, yang menghasilkan industri bordir, kelom geulis, sepatu kulit, meubel, anyaman mendong, dan topi.


Gunung Galunggung

Letusan Gunung Galunggung terakhir, yang terjadi pada tanggal 5 April 1982, memberikan keuntungan di satu sisi. Sisa-sisa letusan itu sekarang berubah menjadi obyek wisata yang indah mempesona, membentuk danau kawah dan sumber air panas.


Pantai Cipatujah

Pantai dengan keindahan alam laut, berpasir putih. Terletak di Kecamatan Cipatujah, sekitar 74 km dari kota Tasikmalaya. Rekreasi bisa dilakukan di muara sungai Cipatujah, mempergunakan perahu, memancing, serta bisa berbelanja berbagai macam buah pisang.


Pantai Sindangkerta

Keistimewaan Pantai Sindangkerta, adalah taman laut yang disebut Taman Lengsar. Bisa digunakan sebagai tempat berenang. Jika air laut surut, maka di taman seluas 20 hektar itu, akan dijumpai karang laut, ikan hias, dan suaka alam satwa penyu hijau yang sudah langka kita temukan.


Pantai Karang Tawulan

Jarak dari kota Tasikmalaya 100 km, terletak di kecamatan Cikalong. Sebuah pantai berkarang dan landai, memiliki panorama laut yang mempesona. Agak ke timur, terdapat pulau kecil Nusa Manuk. Pada waktu-waktu tertentu, Nusa Manuk dihuni oleh berbagai macam jenis burung.


Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tasikmalaya